Rabu, 09 September 2009


Bulan ramadhan, bulan diwajibkannya puasa bagi umat Islam. Tua muda, pria wanita, tak bisa mungkir dari kewajibannya. Masjid masjid mendadak ramai.waktu subuh dan isya menjadi ceria. Namun begitu 10 hari pertama terlewati, prosentase pengunjung masjid mengalami “kemajuan” yang cukup signifikan. Dari yang sebelumnya 10 shaf menjadi 6-7 shaf saja. Di beberapa tempat juga muncul pasar dadakan yang buka menjelang waktu berbuka puasa tiba. Sayangnya, para penjual mengenakan pakaian yang “tidak memenuhi standart” alias minim. Yang mana malah mengurangi nilai puasanya.

Ramadhan telah mengugah euphoria beragama umat islam, namun langsung melempem sepekan setelahnya.

Selain itu, para siswa siswi juga ikut “berbahagia”. Apa pasal? Ternyata jam KBM di sekolah ikut tererosi. Yang dulunya 1 jam pelajaran = 45 menit, saat ramadhan dikorupsi menjadi 30 menit. Dengan alasan puasa.
Padahal puasa khan suatu kewajiban. Kenapa dikambing hitamkan?! Apa gunanya jam pelajaran dikurangi dengan alasan agar ibadah lebih khusyuk namun kenyataan di lapangan bicara lain?! Anak anak SMP dan SMA mayoritas malah menghabiskan “sisa” waktunya untuk jalan jalan, maen ps, dll. Yang justru membawa mudharat.

Bolehlah bila jam KBM dikurangi, tapi cuma untuk anak SD. Anggaplah sebagai pembelajaran ibadah. Toh Rasulullah Muhammad SAW dalam salah satu haditsnya menyaranan bahwa perintah beribadah untuk anak anak wajib setelah usia 10 tahun. Bila jam KBM anak SMA dan SMP dikurangi juga, apa bedanya mereka dengan anak SD?!

Allah Maha Bijaksana. Toh masyarakat diingatkan juga, baru kemarin gempa sukabumi terjadi tadi malam sekitar pukul 11an ada gempa lagi. Kali ini terjadi di 220 km selatan Wonosari, dengan kedalaman 30km.mungkin gempa itu suatu peringatan. Agar di bulan ini kita tidak melupakanNya.
Kalau dipikir pikir, dengan kondisi pendidikan dan masyarakat macam begini, kapan pemikiran dan peradaban Islam bisa bangkit? Wallahualam.

Senin, 31 Agustus 2009


sesaat duduk duduk di beranda kamar, tersadar pikiran beberapa waktu silam. pada kenangan masa SMA. saat itulah, beberapa petuah usang kembali terngiang. salah satunya, "aktivis dilarang pacaran".

"dilarang pacaran". sebuah petuah yang lahir dari rahim ketidakmatangan emosi. yang kemudian waktu mengganggu etos kerja sebagai aktivis(pandangan umum). melupakan amanah dan terkadang merusak ukhuwah. bila memang benar begitu, mengapakah bisa terjadi korsleting antara cinta dan etos kerja?!

bila mungkin benar cinta bersifat subversif terhadap profesionalisme, sungguh betapa malang manusia?! untungnya redaksi petuah itu berbunyi "aktivis dilarang pacaran", dan bukan "aktivis dilarang jatuh cinta". karena cinta itu fitrah manusia. tak mau diundang bila tak mau datang, dan tak bisa mengelak bila masanya kelak. cinta bersifat universal,tak mampu disekat ruang dan waktu,karena pada dasarnya cinta adalah cerita indah tentang apa saja.

bolehlah bila aktivis harus menyisihkan cinta dari lubuk hatinya, bila cinta yang dimaksud adalah cinta ego belaka. posesif,absurd dan berpotensi korslet dengan etos kerja.

padahal sesungguhnya cinta itu tenaga. yang mampu memberi kekuatan bagi kegiatan apa saja. bergantung pada pengendalian dan tranformasinya. pada prakteknya, energi cinta tak perlu lah tertuang dalam bentuk konsentrasi terhadap lawan jenis, meski jelas kemungkinan ke situ besar adanya. bila cinta itu datang pada takaran yang tepat dan masa yang siap, tak perlulah kau tutup itu hati. biarkan cinta mengisi dengan energi. mencintai adalah bentuk memberi tanpa keinginan menerima.

pada akhirnya saya jadi teringat pepatah pecinta sejati...
"bahwa mencintai tak harus memiliki"

Senin, 24 Agustus 2009


ada malaikat abu abu bersayap satu
datang menakutiku dengan sayatan silet di muka dan matanya yang ungu

aku takut dan meringkuk.
ku kira bukanlah malaikat dia
karna jubahnya hitam menjelaga
seperti arang dan abu di tungku ibuku

tapi kemudian bulunya jatuh satu
berwarna abu abu.

aku takut nanti malaikat itu akan datang padaku.
bertemu untuk menanyaiku.
aku takut.
malaikat itu...
tercipta dari mata air air mata

Rabu, 22 Juli 2009

the power of me


Imaji, alam khayal, adalah sebuah kosmos yang tercipta didalam neuron neuron otak. Yang memperindah dunia, yang mampu merubah warna putih menjadi hitam dan merah menjadi biru. Bila sastra tercipta memperindah kata, maka Allah maha Bijaksana dengan menanamkan imaji pada otak manusia.
Maka ketika ada seseorang yang meremehkan imajinasi manusia (tanpa sedikitpun keinginan mendewakan imajinasi), saya merasa terusik. Wiro sableng, Hercules,Wolverine,Spiderman,Batman dan si Buta dari goa Hantu adalah tokoh tokoh imaji yang turut berperan dalam pembentukan karakter Handika kecil. Handika kecil yang sering dimarahi ibunya gara gara kamar yang penuh sarang laba laba dengan harapan suatu saat salah satu laba laba itu akan turun dan mengigitnya. Lalu… Handika akan menjadi seorang Parker. Atau kegilaan kegilaan lain yang memelangi, mewarnai masa kecil dengan begitu indahnya.
Dunia ini adalah tidak punya batas batas tertentu, dan imajinasilah yang membuatnya begitu. Cara berfikir ala Aristotelian yang mengedepankan fakta fakta yang ada masih dominan dalam tiap pembelajran yang ada. Dalam tiap sekolah dan kuliah kita dijejali fakta fakta dan fakta. Kebenaran ada berdasarkan logika. Dominasi logika demikian disebut kaum Aristetollian. Pemikiran ala Aristotelian hanya akan melahirkan ilmu pengetahuan yang sempit. Kebenaran adalah milik logika. Dan segala sesuatunya yang tidak sesuai akan tersingkir dari perpustakaan pikiran. Contoh: mitos, legenda dan dongeng dongeng kuno.
Energy mengikuti imajinasi. Begitulah kata Enstein. Dan dengan imajinasi yang kuat dia akhirnya mampu menghasilkan berbagai penemuan menakjubkan yang “sukses” mengubah wajah dunia. Ada cerita tentang Mayor James Nemeth, seorang jendral Amerika yang ditugaskan pada perang Vietnam dan tertangkap tentara Vietnam. Selama 7 tahun dia terkungkung tanpa sinar matahari dalam ruangan sempit nan sumpek tanpa interaksi dengan dunia luar. Dia tahu dia akan segera gila bila berpikir terus menerus cara melarikan diri. Karna hal itu mustahil. Lalu dia mengubah pola pikirnya. Tiap hari dia membayangkan dirinya berada ditengah padang golf yang luas dan bermain 18 hole. Gilanya begitu keluar penjara, ketika bermain golf permainannya jauh lebih akurat dari sebelumnya. Kuncinya ada pada imajinasi kita. Sekarang siapa mau meremehkan imajinasi?

Senin, 22 Juni 2009

maafkan...

Sebuah akuarium terpasang manis di pojok kamar. Ralph, Leo, Donny dan Mike ditemani teman teman kecilnya sedang asik berenang di dalamnya.

Kalimat diatas bukanlah sebuah awalan cerpen atau cerita khayalan, hal itu nyata terjadi di kamar saya. Beberapa teman terkejut demi mendapati adanya akuarium ini. Hehehehe… bukan apa apa, akuarium beserta isinya itu merupakan kado ulang tahun terindah yang pernah saya dapatkan, dan merupakan sebuah terapi psikologis atas apa yang telah saya lakukan waktu yang lalu.
Yang unik, pada awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan mereka berempat (Ralph dkk). Tapi pepatah tua jawa memang benar adanya “witing tresno jalaran soko kulino”, maka saya yang pada awalnya sangat malas untuk mengganti air, memberi makan dll, berubah 180o
Semuanya berawal setelah Leo dan Mike mogok makan beberapa hari, lemas tidak bertenaga. Maka malam itu juga saya langsung browsing, cari info sebanyak banyaknya tentang jenis kura kura ini. Beragam info saya dapatkan, dan ternyata apa yang terjadi pada mereka akibat perawatan asal asalan saya selama ini.
Maka esoknya dengan berbekal uang saku satu bulan, mengajak seorang teman saya jalan jalan ke Ngasem. Pasar hewan dekat kraton Jogja.di sana saya temukan banyak hewan dan kura kura lain yang bernasib sama atau bahkan lebih buruk dari Leo dan Mike.
Sepulang dari Ngasem, saya membawa banyak oleh oleh untuk kura kura kecil saya.sebuah akuarium ukuran standart untuk 4 ekor kura kura, sebuah filter dan lampu uv serta penghangat untuk mereka. Juga 12 ekor ikan kecil yang menambah keceriaan akuarium.
Kini, setiap pukul 6.30am,Ralph dkk berjemur di bawah matahari pagi hingga pukul 8.00am. makan teratur 2x sehari, 2x sayuran dan cacing tiap minggu, serta lingkungan akuarium yang lebih luas.
Alhamdulillah, beberapa hari kemudian kondisi Leo dan Mike membaik.yang masih terpikir hingga saat ini adalah nasib kura kura yang lain. Masih banyak Leo dan Mike yang lain di Ngasem. Menunggu nasib.entah lebih baik, atau mungkin menjadi persinggahan terakhir di dunia.

Sabtu, 20 Juni 2009


Beberapa hari sejak sore itu, nafsu makan berkurang, pikiran tak tenang dan insomnia membayang ketika petang. Hari hari penyesalan terjadi. Bahkan hingga saat ini. Ketika saya menuliskannya hanya sekedar berharap semoga ada orang lain yang mampu mengambil hikmahnya,

Ketika itu pukul empat sore, ketika saya berjalan menuju terminal Giwangan. Semua berjalan sebagaimana mestinya, hingga disebuah tikungan di bawah pohon, secara tak sengaja saya melihat sebuah sarang burung tergeletak di tanah.sarang itu jatuh dari tempatnya mungkin lima meteran. Dan dalam sarangh tersebut terdapat tiga ekor anak burung,dua tepatnya. Karena salah satunya sudah mati dirubung semut merah.yang mengenaskan, dua anak burung itu belum berbulu. Masih begitu lemah, dengan kelopak mata yang masih tertutup, dan beberapa semut yang mulai datang menggigitnya.
Segera saya angkat dua anak burung tersebut, saya bersihkan dari semut semut yang menggigitnya. Lalu diam. Bingung. Tak tahu harus berbuat apa. Bila saya tinggalkan, saya telah membiarkannya mati sia sia. Sedangkan kondisi saya hamper tidak mungkin untuk membawanya pulang.yang saya tahu, induk burung tidak akan memperhatikan nasib anaknya apabila sarangnya telah jatuh menyentuh tanah.

Setelah lama terdiam. Berperang dengan berbagai argument dan pemikiran. Saya menyerah pada insting dasar umat manusia, yang menganggap umat manusia tak lebih kuat daripada dirinya.
Pada akhirnya saya meninggalkannya di sarang burung yang penuh semut merah merubung, setelah sebelumnya saya sembelih keduanya dengan mengucap asma Allah. Bangkainya saya kembalikan pada semut semut merah yang akan mengembalikannya pada wujudnya yang tak abadi.

Saya tidak mungkin membawanya, lebih tidak mungkin meninggalkannya mati tersiksa. Saya tidak tahu, apakah yang saya lakukan sudah benar atau salah. Yang saya tahu, saya merasa amat bersalah setelahnya. Saya tidak pernah berharap mendapatkan pengalaman seperti ini,pun ketika saya mendapatkannya, saya tak bisa menolaknya. Andai saya boleh memilih…

come back!

Mengenaskan. Beberapa minggu tanpa up date. Tanpa sedikit perhatian. Tak adil rasanya bila mengkambinghitamkan musibah yang terjadi. Ini soal eksistensi.
Dan aku telah takluk oleh diri. Untuk “mengesampingkan” hal hal seperti ini. Tak perlu rasanya kata maaf terucap, karna memang tak pantas dan tak pasti ditujukan untuk siapa dan apa.
Pada hakikatnya aku tak pernah mampu berhenti menulis. Yang ada hanya berhenti mengetik, sebuah implementasi menulis itu sendiri. Langkah nyata membawa tulisan ke dunia maya.
Banyak hal telah terjadi, ada banyak tulisan berserakan. Ketka dikumpulkan untuk “ditulis” kembali, problematikanya terlanjur basi.
Maka dengan sisa sisa tulisan ini, aku kembali, merangkai mimpi untuk esok yang semoga makin berseri.

blogger templates | Make Money Online